Langsung ke konten utama

Postingan

Merdeka Sukarela

Hidup dalam keterbatasan Dengan uang yang pas-pasan Dan habis tak tersisa demi 17-an Di tempat tinggal pun sekolahan   Sebagai wali murid dan warga Dipaksa menyumbang untuk hal sia-sia Bukankah kesejahteraan rakyat lebih utama Daripada acara yang hanya huhu-haha   "Sumbangan sukarela," katanya Tapi ada batasan minimal nominalnya Berdasarkan hasil rapat beberapa pejabat Dengan tanpa memedulikan rakyat yang melarat   Dan di akhir acara Panitia bertamasya ria Dengan "sisa dana," katanya Sementara ada bocil menangis tak dapat hadiah   Bukan salah acaranya Hanya tak suka caranya 17 Agustus bukan lagi peringatan kemerdekaan Melainkan penjajahan jua berbalut kesukarelaan     Jakarta, Agustus 2022 Arfan & Ji elbatawi

Bukan Lu Doang

Yang capek bukan lu doang Yang pusing bukan lu doang Yang kurang tidur bukan lu doang Yang tugasnya numpuk bukan lu doang Yang punya tanggungan bukan lu doang Yang kekurangan uang bukan lu doang Yang susah cari kerja bukan lu doang Yang susah cari tambahan bukan lu doang Enggak usah memelas minta dimaklumi Enggak usah merasa enggak punya teman Kalau lu sendiri enggak tau fakta semua ini Bahwa yang hidupnya berat bukan lu doang Enggak usah manja Enggak usah sok galak Hidup memang demikian Tapi itu semua takkan lama Istirahat sedapatnya Ikhtiar semampunya Ibadah seoptimalnya Tawakal sepasrahnya Hiburan pasti datang Bahagia kan menjelang Ji elbatawi Jakarta, Januari 2022 Umur ente berapa sekarang? Enggak nyangka, kan, udah survive selama itu? Begitu jua ke depannya, enggak usah dipikirin, jalanin aja. Mu'allim Ahmad Syarqowi

Tanpa Perasaan

' Kau hanya menghubungiku kala malam sampai pagi Memintaku menemani insomniamu yang makin jadi Kemudian kau pergi beraktivitas hingga malam lagi Dan kembali kau menghubungiku Berkeluh-kesah tentang hari itu Tentang pekerjaanmu yang tiada sudah Tentang rekan kerjamu yang banyak tingkah Tentang kekasihmu yang 'buatmu serba salah Tentang keluargamu yang tak selayaknya rumah Aku jaga aibmu Aku jaga rahasiamu Aku jaga bahkan ragamu Tapi hatimu ... Aku senang dimanfaatkan Aku senang mendengarkan Aku senang berbagi pengalaman Tapi aku tak senang melibatkan perasaan Ji elbatawi Jakarta, Desember 2021

Pelajar Mbeling 2: Miskin Kuadrat

Jadi Anak Pengajian memang harus siap miskin. Seperti kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Kami ridho dengan pemberian Allah pada kami. Bagi kami ilmu dan bagi musuh-musuh kami harta. Sesungguhnya harta itu akan musnah dalam waktu singkat, sedangkan ilmu itu kekal senantiasa.” Kenapa anak ngaji itu miskin, yang saya lihat dan alami di antaranya adalah karena: 1. Jadi lebih susah mendapatkan pekerjaan      a. Anak ngaji yang sudah paham hukum akan memilah pekerjaan-pekerjaan yang akan ia ambil. Anak ngaji tidak akan mau mengambil perkerjaan yang syubhat (samar hukum) apalagi yang jelas haram. Bahkan, ada pula beberapa pekerjaan halal yang tidak sepatutnya diambil oleh orang-orang yang bernama Ahmad atau Muhammad (saya termasuk).      b. Anak ngaji akan berat mengambil tawaran kerja yang jauh, seperti di luar kota. Karena akan jauh dari pengajian atau di sana harus mencari lagi pengajian yang cocok.      c. Anak ngaji akan lebih “dij...

Seorang Pelajar Mbeling

Salah satu teman saya yang seorang pengajar bertanya: "Sudah pernah diajarkan di sekolah, sudah pernah dibahas di pengajian, kenapa baru tergerak mengamalkan suatu nasihat setelah mendengarnya dari media sosial atau lainnya?" Menurut saya, ada 3 faktor yang menyebabkan demikian: 1. Momen Momen dapat memengaruhi suatu nasihat langsung bermanfaat atau tidak. Ketika diperdengarkan pertama kali, adakalanya si murid belum paham akan manfaatnya di kehidupan. Mungkin karena belum pernah mengalami atau melihat langsung orang yang mengalami, yang membuatnya tidak termotivasi untuk segera mengamalkannya. Begitu ia mengalaminya, barulah ia mengerti dan mengamalkan nasihat tersebut. Itu pun jika ia masih ingat. Jika tidak, maka ia akan mencari-cari jawaban atau solusinya ke sana ke mari, bertanya pada gurunya lagi, atau ke media sosial. Mungkin jua, ketika diperdengarkan pertama kali, si murid belumlah sanggup untuk mengamalkannya, sampai ia mendapatkan nasihat itu lagi dari...

Review Buku: Atomic Habits - James Clear

"Tanpa memperbaiki kebiasaan anda sehari-hari, kemungkinan pada tanggal yang sama tahun depan anda masih mengerjakan hal yang sama, bukan sesuatu yang lebih baik." (Halaman 35) Sebuah buku Pengembangan Diri yang rekomendasiannya sering sekali lewat di media sosial saya. Kebanyakan mereka merekomendasikan buku ini dengan konteks "5 Buku Terbaik Tahun Ini" atau "5 Buku Yang Mengubah Hidup Saya". Setelah sadar bahwa rencana-rencana rutinitas saya seringkali hanya sebatas rencana, barulah saya putuskan untuk membaca buku ini, yang "katanya" berisikan tips-tips menjalani kebiasaan baik dengan disiplin serta meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Setelah selesai mengkhatamkan dan kemudian merekomendasikannya ke beberapa teman saya, salah seorang dari mereka bertanya, "Selesai baca buku ini, efeknya di diri lu apa?" Dari sebelum selesai baca buku ini pun saya sudah mulai membuat jadwal kegiatan 24/7, disiplin menjalaninya, serta kebiasaan-keb...

Surat Semoga Tak Sampai

As-salamu 'alaikum, Manis. Aku rasa, pertanyaan apa kabar tidaklah perlu. Karena, siapapun pasti tau, kamu sudah punya keluarga kecil yang bahagia selalu. Jangan khawatir, aku turut bahagia, kok. Ya ... meski belum sepenuhnya move on. Aku senang mengikuti setiap postinganmu yang selalu inspiratif. Tentang refleksi dirimu yang makin arif. Tentang dukunganmu pada rutinitas suamimu yang positif. Tentang aktivitas anakmu yang kian hari makin kreatif, yang notabene selalu kamu berikan mainan-mainan edukatif. Tidak seperti anak-anak generasi terkini, yang dibiarkan ketergantungan gadget sejak usia dini. Hai, Manis. Masalahku sekarang adalah, bagaimana aku bisa move on, jika kamu sesempurna itu? Apa ada, yang lebih baik darimu? Sekali lagi, kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengusik kebahagiaan kalian. Aku cukup sadar diri, kalaupun kamu bersamaku, aku belum tentu bisa mengiringimu sampai seperti demikian. Dan tak lupa aku ucapkan selamat ulang tahun. Semoga kalian bahagia dan ber...

Rumah Angker

Menghindari ingar bingar metropolitan yang kapan saja bisa membunuhku perlahan Mengasingkan diri ke pedalaman menyelesaikan suatu proyek tulisan Mereka bilang rumah ini angker Tapi tidak bagiku yang introver Mula-mula ada yang mengintip tanpa berkedip Seperti penasaran ingin berkenalan Seiring waktu mereka justru menemani Membuatku tak merasa sendiri dan sepi Bahkan ada yang sering kali memperhatikanku dari belakang Seolah mengawasiku agar tak lupa pada tujuanku datang Keberadaan makhluk astral Membuat imajiku makin universal Terkadang ada yang berbisik Memberi ide yang harus kuketik Ada pula yang menertawakan Tiap kali otakku menemui kebuntuan Sesekali ada yang mencolek Membuyarkan kantuk agar aku kembali melek Ada jua yang suka memberi terapi kejut Memastikan jantungku masih berdenyut Aku tidak merasa terganggu oleh mereka Setidaknya tidak seperti teman manusia Yang tidak bisa melihat teman berkarya Ji elbatawi Jakarta, September 2021

Karam

Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal Pada akhirnya itu bukanlah suatu yang esensial Aku yakin aku tidak akan selamat dari ini kapal Kenakan air matamu laiknya riasan Meski itu terlalu berlebihan Tapi seni sudah langis Jangan menangis Biarkan aku tenggelam Menyelam lebih dalam Dorong kepalaku Cekik aku sampai karam Melayanglah kepercayaan Tergelincirlah kerongkongan Hingga relung penghabisan Begitu dingin Tapi ini tempat aku 'kan bersemayam Nyaman dalam kesakitan Seperti mesin Setiap hari aku dikekang Bernapas 'tuk bertahan Aku 'kan terus menanti Mengubur segala mimpi Dan hanya ingin berhenti Ji elbatawi Jakarta, September 2021 Diadaptasi dari lagu The Warning - Choke

Mengapa Kau Larang

Mengapa kau larang pikiran ini Mengapa kau larang rindu ini Mengapa kau larang sayang ini Mengapa kau larang cinta ini Sedang pikiran ini tak bisa berhenti Sedang rindu ini tak bisa menanti Sedang sayang ini tak bisa berganti Sedang cinta ini tak bisa mati Ji elbatawi Jakarta, Oktober 2013 Tampilan share awal:

Dipecundangi Dunia

Dipecundangi dunia di tengah malam Berjalan sendirian dan tanpa tujuan Ketika perempuan lain akan ketakutan bila ada yang mengikutinya, entah takut dirampok, diculik, diperkosa, ataupun dibunuh, ia tidak peduli, tiada khawatir, pasrah. Ia tak punya apa-apa 'tuk dirampok. Ia tak punya siapa-siapa yang 'kan menebusnya bila diculik. Mungkin ia punya ilmu bela diri 'tuk melawan pemerkosa, atau mungkin ia 'kan memasrahkan tubuhnya dan kemudian meminta bayaran. Sedangkan 'tuk dibunuh sejatinya ia sudah mati Ji elbatawi Jakarta, Februari 2021

Tata Bahasa Alamiah

"Biasa aja dong, nggak usah ngegas gitu." "Lah, gua ngetiknya biasa aja. Lu-nya aja kali yang bacanya ngegas." \\ Dalam ilmu Tata Bahasa, pemilihan serta penyusunan kata itu dapat memengaruhi ekspresi tulisan. Ketika anda gagal mengendalikan perasaan anda (bahagia, marah dll), maka pemilihan serta penyusunan kata anda akan terketik/terucap secara alamiah berdasarkan perasaan anda. Dan dari situ pulalah lahir ilmu mendeteksi kebohongan. Itu jua beberapa alasan saya memperdalam ilmu bahasa: agar tidak mudah dibohongi, pikiran saya tidak mudah dibaca, dan tahu tata bahasa yang baik untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang patut dihormati. Dan yang lebih parah dari kesalahan bahasa tulisan adalah tidak digunakannya tanda baca. Contoh—sepele: "Ji berangkat" Itu maksudnya apa? Ngasih tau, nyuruh, atau nanya? Saya yang sedang buru-buru mau berangkat tidak sempat membalas. Setelah sampai tujuan, ternyata maksud dia itu bertanya dan mau nebeng. Salah s...

Email 3 Pagi

Jam 3 pagi kau mengirimkanku email Dua paragraf formal yang cukup detail Aku memastikan, "Ini benar kamu?" "Iya. Plis, aku perlu bantuan kamu." Paragraf pertama berucap salam dan maaf mengirim pesan di jam tiga Paragraf kedua memohon bantuan yang mana hanya aku yang bisa Ingin sekali kuberi syarat agar pindah ke WhatsApp Namun ini hal profesionalitas dan tanggung jawab Dan benar, hanya sebatas pekerjaan Kau berterima kasih dan berpamitan Tiada satupun pertanyaan pribadi Tiadakah kerinduan di hatimu tadi? Setidaknya kau t'lah menjawab baitku dua tahun lalu Bahwa kita kan jumpa lagi pada kebetulan yang baru Ji elbatawi Jakarta, Maret 2021

Review Buku: Islam Santuy Ala Gus Baha - Harakah ID

Buku Islam Santuy Ala Gus Baha ini ditulis dan diterbitkan sendiri oleh Harakah ID. Harakah ID adalah sebuah situs belajar islami yang menyajikan artikel-artikel kajian dan berita keislaman. Adapun Gus Baha, atau kiai dengan nama lengkap K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim ini merupakan salah satu santri K.H. Maimun Zubair yang belakangan ini cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia berkat pembawaan materi pengajiannya yang sederhana, mudah dimengerti dan disertai dengan guyonan-guyonan ringan. Buku ini berisikan kumpulan artikel-artikel dari situs Harakah ID yang ditulis oleh tim penulis mereka yang membahas kajian-kajian Gus Baha dari berbagai sumber, yang kemudian dikelompokkan di dalam buku ini menjadi 5 bab. Buku ini berbahasa Indonesia, sesuai dengan harapan saya ketika hendak membelinya. Karena, saya masih kurang cukup mengerti bahasa asli Gus Baha, bahasa Jawa. Namun, yang kurang memuaskan saya adalah, setiap judulnya itu tidak dominan perkataan (kaul) Gus Baha ataupun terjemah...

Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Utang Per Kepala Suatu Negara?

Per Desember 2020, utang negara Indonesia sudah mencapai Rp6.074,56 triliun. Dan jika dibagi 271,35 juta penduduk (per Desember 2020), maka didapati utang per kepala Rp22,4 juta. Menurut Ekonom, sampai tahun 2050 pun utang tersebut belum tentu lunas. Maka muncul pertanyaan, jika ada warga negara yang wafat sebelum lunasnya utang tersebut, apakah ia wafat membawa/bertanggung jawab atas utang per kepala itu di akhirat? Sedangkan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, "Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan sebab utangnya sampai ia melunasinya." [HR. Tirmidzi] Pertama, istilah "utang per kepala" itu hanyalah sebuah perumpamaan untuk menggambarkan seberapa besarnya utang negara. Maka, yang bertanggung jawab atas utang tersebut adalah para pejabat di setiap periodenya yang membuat dan menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan utang tersebut. Akan tetapi, jika mereka—para pejabat—wafat sebelum lunasnya utang negara, yang jadi tanggung jawab mereka di akhi...

(P)akar Masalah

Gua dari kelas 3 SMP udah sering jadi tempat curhat teman-teman gua. Sekarang, benar, giliran gua yang lagi mau curhat, mereka malah jawab, "Lu masih mending. Lah gua, ...." Buat gua, ya kesel emang, tapi setidaknya itu (1) mengingatkan gua bahwa kita nggak boleh sembarang curhat, sembarang ngeluh. "Curhatlah hanya kepada Allah". Mohon maaf, tanpa maksud menentang, tidak bisa dipungkiri bahwa kita juga butuh teman curhat yang bisa kita lihat, yang bisa merespon—dengan gestur maupun perkataan—secara indrawi. Maka curhatlah kepada orang yang sekiranya ahli dalam memberikan solusi atas masalah yang sedang kamu alami. Minimal kepada orang yang tidak akan menyebarluaskan aib masalahmu. Dan walaupun gua udah cukup lama dan sering dijadikan tempat curhat, bukan berarti sekarang gua udah ahli apalagi pakar. Kemarin ada yang bilang begitu, soalnya. Padahal, gua jarang banget ngasih solusi pada mereka. Dari dulu, gua nggak lebih dari sekadar "teman ngopi ya...

Lampu Merah

  Lampu merah nya sebentaran banget Pengamen baru dapat dua logam gopek-an Penanggok sumbangan masjid baru salam Pasangan kekasih baru dua garukan dengkul Ojek online baru cek Hp dan neduh bentaran Sopir angkot belum beres merapikan recehan Sales pengobatan cukup gesit sebar selebaran Sales rokok nan seksi belum ada yang godain Copet baru melihat target dan mepet-mepet Emak-emak nyebrang buru-buru lari-lari kecil Tukang kanebo belum sampai ke yang manggil Tukang cangcimen belum ngasih kembalian Pak Polisi belum dapat selfie apik 'tuk laporan Pak Boss baru aja manggil bocah loper koran Nyonya Boss masih lagi meratakan lipstiknya Pemotor jarak jauh belum reda kesemutannya Pramunikmat masih lagi dinego trio pemuda Pelanggar lalu lintas tetap saja sudah nerobos Saya belum selesai baca info konser di baliho Sedang kamu belum juga menoleh ke arahku Eh, sudah lampu hijau aja Ji elbatawi Jakarta, Desember 2020

Ketika Anak Terjerumus

Malam itu seorang bapak mendapat laporan bahwa anaknya—yang masih SMP—terlihat sedang merokok di warung saya. Tanpa mengulur waktu, sang bapak segera beranjak ke warung saya. Tepat, si anak sedang mengisap rokoknya ketika bapaknya tiba. Si anak segera membuang rokoknya tanpa dititah; sang bapak memarahinya serta memperingatkan beberapa temannya, kemudian menyuruh mereka pulang. Tidak langsung pulang menggiring anaknya, si bapak malah memanggil saya yang sejak tadi menyimak dari dalam warung. "Bapakmu ada?" tanya bapak itu. "Nggak ada, lagi keluar. Kenapa?" jawab saya berlagak pilon. "Yaudah, saya mau ngomong sama kamu aja. Kamu udah dewasa, kan? Udah kuliah, kan?" Saya siap menyimak. "Kamu ini bagaimana, sih?" bapak itu mengawali dongengnya dengan tegas. "Anak-anak masih di bawah umur begitu, merokok, kok, nggak dilarang? Mereka ini generasi calon penerus bangsa. Apa jadinya negara ini nanti jika anak-anak di bawah umur sudah dibiarkan merok...

Konsentrasi, Tapi Jangan Fokus

  Sebelumnya saya kesal pada orang-orang yang tidak bisa tetap mendengarkan kita bicara sekalipun sembari main handphone — karena saya bisa. Sampai akhirnya saya berpikiran, "Kayaknya enak, deh, mereka: ketika sholat pasti bisa khusyuk, tidak mudah terganggu oleh suara-suara di sekitar; tidak seperti saya, mudah sekali terdistraksi."   Ayah saya seorang pecinta musik. Sedari kecil saya sudah diperdengarkan beberapa aliran musik. Dan di masa Sekolah Dasar, saya mendapatkan informasi dari televisi bahwa belajar sambil mendengarkan musik dapat membantu konsentrasi serta meningkatkan daya ingat otak.   Sejak itu maka saya amalkan informasi tersebut sampai masa kuliah, yang ternyata berefek samping saya jadi terlatih dan terbiasa membagi fokus otak. Sedangkan belakangan yang saya pahami, musik yang dimaksud pada informasi televisi itu adalah musik klasik yang tidak berlirik. Saya yang saat itu masih anak Sekolah Dasar mana tahu apa itu musik klasik.    ...

"Jangan Soleh-Soleh Banget"

Itu perkataan guru gua beberapa hari lalu. Maksudnya lebih kepada "Jangan kayak orang Soleh." Iya, cuma "kayak". Zhohirnya aja yang kelihatan soleh, sedangkan sikap kesehariannya masih... ya gitu dah. Jatuhnya jadi seperti menjual agama demi dunia.   Gua mau cerita sedikit yang berhubungan dengan itu.   Gua bekerja di salah satu jasa pelayanan pembayaran tagihan-tagihan online. Bulan Mei lalu, ada pelanggan yang datang dengan penampilan rapih; baju koko, sarung serta peci. Setelah gua kasih tau total tagihannya, ternyata uangnya kurang. Dia minta tolong di-submit dulu dan nanti dia balik lagi bawa uang kekurangannya. Gua tidak menyanggupinya, bukan karena tidak percaya atau takut nombok, tapi lebih kepada mengikuti prosedur. Kekurangannya cuma 200 ribuan sebenarnya.   Dan dia baru kembali keesokan harinya untuk menyelesaikan pembayarannya.   Bulan berikutnya, Juni, dia datang lagi tetap dengan penampilannya yang rapih itu. Lagi, uang yang dia bawa ku...