Langsung ke konten utama

Konsentrasi, Tapi Jangan Fokus

 

Sebelumnya saya kesal pada orang-orang yang tidak bisa tetap mendengarkan kita bicara sekalipun sembari main handphone—karena saya bisa. Sampai akhirnya saya berpikiran, "Kayaknya enak, deh, mereka: ketika sholat pasti bisa khusyuk, tidak mudah terganggu oleh suara-suara di sekitar; tidak seperti saya, mudah sekali terdistraksi."

 

Ayah saya seorang pecinta musik. Sedari kecil saya sudah diperdengarkan beberapa aliran musik. Dan di masa Sekolah Dasar, saya mendapatkan informasi dari televisi bahwa belajar sambil mendengarkan musik dapat membantu konsentrasi serta meningkatkan daya ingat otak.

 

Sejak itu maka saya amalkan informasi tersebut sampai masa kuliah, yang ternyata berefek samping saya jadi terlatih dan terbiasa membagi fokus otak. Sedangkan belakangan yang saya pahami, musik yang dimaksud pada informasi televisi itu adalah musik klasik yang tidak berlirik. Saya yang saat itu masih anak Sekolah Dasar mana tahu apa itu musik klasik.

 

 

Ji elbatawi

Jakarta, November 2020

Komentar

Postingan Populer

Ingin Berkata Kasar

Karya tulis apapun -termasuk lagu- jika tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, itu ibarat pertandingan UFC tidak boleh melukai. What!! Kunci-kuncian alias peluk-pelukan aja gitu di atas ring?? Naa... jis. Hahaha... Kebebasan berekspresi adalah hak setiap orang, sekalipun bukan seniman. Dalam berkarya sebagai bentuk pengekspresian diri atas suatu pengalaman ada banyak sekali macam-macam sumber inspirasinya. Ya, termasuk dari hal-hal yang bersifat tidak baik. Kata-kata kasar itu ada karena sifat seperti itu memang ada. Menurutmu lebih dulu ada sifatnya atau sebutannya? Tentu sifatnya, baru kemudian kita memberikan penyebutannya. Lantas, mengapa harus dibatasi jika inspirasinya memang dari pengalaman bertemu dengan sifat-sifat negatif seperti itu?

Demonstrasi X Palang-Pintu Betawi

Menanggapi komentar "untuk apa demo", bagaimana kalau aksi demonstrasi ini saya ibaratkan dengan pernikahan. Biar lebih asik dan mudah dipahami, karena setiap kita pasti telah dan ingin menikah. Pada dasarnya seorang pria bisa saja dan sah-sah saja datang melamar dan menikah seorang diri. Tentunya kedatangan sang pria untuk meminang tersebut sudah berdasarkan hasil ta'aruf (perkenalan) yang lebih dari cukup untuk meyakinkannya. Namun, kebanyakan pihak wanita meminta sang pria untuk datang membawa keluarganya sebagai bukti keseriusan. Maka datanglah sang pria beserta keluarganya.