Langsung ke konten utama

Ingin Berkata Kasar

Karya tulis apapun -termasuk lagu- jika tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, itu ibarat pertandingan UFC tidak boleh melukai. What!! Kunci-kuncian alias peluk-pelukan aja gitu di atas ring?? Naa... jis.
Hahaha...

Kebebasan berekspresi adalah hak setiap orang, sekalipun bukan seniman. Dalam berkarya sebagai bentuk pengekspresian diri atas suatu pengalaman ada banyak sekali macam-macam sumber inspirasinya. Ya, termasuk dari hal-hal yang bersifat tidak baik.

Kata-kata kasar itu ada karena sifat seperti itu memang ada. Menurutmu lebih dulu ada sifatnya atau sebutannya? Tentu sifatnya, baru kemudian kita memberikan penyebutannya. Lantas, mengapa harus dibatasi jika inspirasinya memang dari pengalaman bertemu dengan sifat-sifat negatif seperti itu?

Iya, segalanya memang tergantung pada pribadi masing-masing. Ada yang berpendapat bahwa pengucapan kata-kata kasar itu karena pengaruh dari lingkungan yang negatif serta minat budaya yang diikutinya. Dan Victor Hugo, penyair asal Perancis, mengatakan, "Kata-kata yang kasar membuktikan lemahnya pemikiran."

Dari pemilihan kata yang ia gunakan, menurut saya yang dimaksud oleh Hugo itu adalah bahwa daripada menggunakan kata-kata kasar lebih baik gunakan istilah-istilah alternatifnya.

Entahlah, kata-kata kasar yang to the point itu bertujuan agar lebih "kena" tepat ke perasaan si target. Apalagi sebagai pengekspresian diri, terkadang itu lebih memuaskan dan melegakan ketika mengeluarkan unek-unek. Dan terkadang kata-kata kasar itu memang lebih tepat sebagai penggambaran maksud daripada istilah-istilah semaknanya. Bahkan dari sisi keagamaan pun kita semua tau ada beberapa 'Ulama yang juga memanfaatkan kata-kata kasar untuk "menyentuh" hati murid-muridnya agar "sadar".

Bersyukurlah jika kamu tidak pernah bertemu dengan sosok yang bersifat negatif seperti itu. Sehingga kamu tidak sampai perlu mengucapkan kata-kata negatif tersebut untuk bereaksi.

Yang terpenting adalah gunakan seperlunya, tidak berlebihan. Jadikan itu pilihan kata-kata terakhir jika dengan kata-kata halus masih kurang "ngena". Tentunya akan lebih baik lagi jika tidak sampai perlu menggunakan kata-kata kasar. Rasulullah SAW bersabda:
مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ
"Tidak ada suatu apapun yang lebih berat pada timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia dan sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang lisannya kotor dan kasar.” (HR. Tirmidzi)

Adapun kata-kata kotor atau seksual, sekalipun dalam bahasa biologisnya, saya tidak akan bahas banyak karena saya amat sangat tidak menyukainya. Tapi tetap, menurut saya kita juga perlu tau dan paham akan kata-kata kotor tersebut. Yakni agar kita tidak terbodohi serta tau bagaimana menyikapinya.

Saya pribadi jika mendengar atau diperdengarkan kata-kata kotor, saya lebih memilih untuk bersikap pura-pura tidak mendengar atau pura-pura tidak mengerti. Sepengalaman saya, cukup dengan seperti itu perlahan mereka akan mengerti atau bahkan jadi segan untuk ngobrol dengan kita menggunakan kata-kata itu lagi.

Sejauh ini tulisan (puisi) saya yang terdapat kata-kata kasarnya hanya satu. Itupun tidak untuk makna yang sebenarnya. Klik di sini jika berkenan melihatnya.

Terimakasih. Was salam. Ji elbatawi..

Komentar

Postingan Populer

Email 3 Pagi

Jam 3 pagi kau mengirimkanku email Dua paragraf formal yang cukup detail Aku memastikan, "Ini benar kamu?" "Iya. Plis, aku perlu bantuan kamu." Paragraf pertama berucap salam dan maaf mengirim pesan di jam tiga Paragraf kedua memohon bantuan yang mana hanya aku yang bisa Ingin sekali kuberi syarat agar pindah ke WhatsApp Namun ini hal profesionalitas dan tanggung jawab Dan benar, hanya sebatas pekerjaan Kau berterima kasih dan berpamitan Tiada satupun pertanyaan pribadi Tiadakah kerinduan di hatimu tadi? Setidaknya kau t'lah menjawab baitku dua tahun lalu Bahwa kita kan jumpa lagi pada kebetulan yang baru Ji elbatawi Jakarta, Maret 2021

Kamu Terlalu Baik

Menjauhlah dari orang yang menganggap kamu terlalu baik. Itu hanyalah kata lain bahwa mereka tidak sanggup mengapresiasi dan menerima orang sebaik kamu dalam hidupnya. Mereka tidak sanggup melihat kamu berbuat baik kepada banyak orang terutama kepada yang lawan jenis. Mereka merasa takut. Padahal, jauh dalam lubuk hatinya, mereka menginginkan kekasih yang baik. Orang seperti itu pada akhirnya hanya akan menyakitimu, meninggalkanmu dan bersikap seolah kamu telah melakukan kesalahan. Tapi kamu tidak perlu merasa menyesal, atas ketulusan setiap perbuatan baik yang pernah kaulakukan selama ini. Bukankah orang baik hanya untuk orang baik jua?