Langsung ke konten utama

Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Utang Per Kepala Suatu Negara?

Per Desember 2020, utang negara Indonesia sudah mencapai Rp6.074,56 triliun. Dan jika dibagi 271,35 juta penduduk (per Desember 2020), maka didapati utang per kepala Rp22,4 juta. Menurut Ekonom, sampai tahun 2050 pun utang tersebut belum tentu lunas.

Maka muncul pertanyaan, jika ada warga negara yang wafat sebelum lunasnya utang tersebut, apakah ia wafat membawa/bertanggung jawab atas utang per kepala itu di akhirat? Sedangkan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, "Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan sebab utangnya sampai ia melunasinya." [HR. Tirmidzi]

Pertama, istilah "utang per kepala" itu hanyalah sebuah perumpamaan untuk menggambarkan seberapa besarnya utang negara. Maka, yang bertanggung jawab atas utang tersebut adalah para pejabat di setiap periodenya yang membuat dan menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan utang tersebut.

Akan tetapi, jika mereka—para pejabat—wafat sebelum lunasnya utang negara, yang jadi tanggung jawab mereka di akhirat bukanlah perkara utang, melainkan perkara tanggung jawab mereka sebagai wakil rakyat; adakah mereka amanah atau tidak. Karena, dalil-dalil perkara utang hanya merujuk pada utang personal saja.

Kedua, apakah itu berarti rakyat bebas dari tanggung jawab utang tersebut?

Secara langsung, iya. Tapi, sebagai warga negara, kita punya kewajiban membayar pajak, yang mana pajak merupakan salah satu sumber dana negara untuk membayar utang. Adapun perkara bilamana pajaknya itu berlebihan, maka itu kembali lagi ke tanggung jawab para pembuat kebijakan.

Selain taat pajak, warga negara juga sepatutnya mengusung dan memilih calon wakil rakyat yang benar-benar bisa dipercaya; yang sekiranya mampu mengurus negara, termasuk dalam hal mengurangi utang. Masalah ternyata mereka tidak amanah, itu juga urusan mereka.

Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan utang negara. Mereka yang bertanggung jawab pun masih bisa bilang utang negara kita saat ini masih dalam level aman. Entahlah, itu bukan ranah kita.


Ji elbatawi
Jakarta, Februari 2021



Referensi:
> https://m.merdeka.com/uang/desember-2020-utang-indonesia-bengkak-jadi-rp6074-triliun.html#:~:text=Merdeka.com%20%2D%20Kementerian%20Keuangan%20mencatat,yang%20sama%20di%20tahun%20lalu.
> https://islam.nu.or.id/post/read/76361/status-utang-negara-dalam-hukum-islam
> https://m.republika.co.id/berita/p5opg8282/apakah-rakyat-menanggung-utang-negara-ini-kata-ustaz-somad
> https://www.kompasiana.com/pohontomat/5d63458e097f364dda40da32/utang-negara-indonesia-siapa-yang-menanggung-di-akhirat-ada-yang-mau

Komentar

Postingan Populer

Review Buku: Atomic Habits - James Clear

"Tanpa memperbaiki kebiasaan anda sehari-hari, kemungkinan pada tanggal yang sama tahun depan anda masih mengerjakan hal yang sama, bukan sesuatu yang lebih baik." (Halaman 35) Sebuah buku Pengembangan Diri yang rekomendasiannya sering sekali lewat di media sosial saya. Kebanyakan mereka merekomendasikan buku ini dengan konteks "5 Buku Terbaik Tahun Ini" atau "5 Buku Yang Mengubah Hidup Saya". Setelah sadar bahwa rencana-rencana rutinitas saya seringkali hanya sebatas rencana, barulah saya putuskan untuk membaca buku ini, yang "katanya" berisikan tips-tips menjalani kebiasaan baik dengan disiplin serta meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Setelah selesai mengkhatamkan dan kemudian merekomendasikannya ke beberapa teman saya, salah seorang dari mereka bertanya, "Selesai baca buku ini, efeknya di diri lu apa?" Dari sebelum selesai baca buku ini pun saya sudah mulai membuat jadwal kegiatan 24/7, disiplin menjalaninya, serta kebiasaan-keb...