Langsung ke konten utama

Tata Bahasa Alamiah


"Biasa aja dong, nggak usah ngegas gitu."

"Lah, gua ngetiknya biasa aja. Lu-nya aja kali yang bacanya ngegas."

\\

Dalam ilmu Tata Bahasa, pemilihan serta penyusunan kata itu dapat memengaruhi ekspresi tulisan.

Ketika anda gagal mengendalikan perasaan anda (bahagia, marah dll), maka pemilihan serta penyusunan kata anda akan terketik/terucap secara alamiah berdasarkan perasaan anda.

Dan dari situ pulalah lahir ilmu mendeteksi kebohongan. Itu jua beberapa alasan saya memperdalam ilmu bahasa: agar tidak mudah dibohongi, pikiran saya tidak mudah dibaca, dan tahu tata bahasa yang baik untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang patut dihormati.

Dan yang lebih parah dari kesalahan bahasa tulisan adalah tidak digunakannya tanda baca.
Contoh—sepele: "Ji berangkat"

Itu maksudnya apa? Ngasih tau, nyuruh, atau nanya? Saya yang sedang buru-buru mau berangkat tidak sempat membalas. Setelah sampai tujuan, ternyata maksud dia itu bertanya dan mau nebeng. Salah siapa?

Kalaupun saya harus husnuzhon, paling saya balas "iya" lalu langsung ngegas. Saya anggap maksud dia adalah mengingatkan.

Contoh umum yang pernah saya dapat dari guru:
"Kucing makan tikus mati."
"Kucing, makan tikus mati."
"Kucing makan, tikus mati."
"Kucing makan tikus, mati."

Paham kan perbedaan maknanya?
Betapa ngeribetinnya komunikasi chat jika tanpa tanda baca. Anda mungkin biasa saja, tapi lawan bicara anda?


Ji elbatawi
Jakarta, April 2021

Komentar

Postingan Populer

Termakan Media

Mereka yang tidak mengindahkan himbauan pemerintah, mereka yang kita benci dan kita anggap meremehkan Corona, bisa saja lebih mengetahui mengenai fakta-fakta di balik itu semua. Karena mereka tetap keluar rumah, karena mereka tetap harus banyak berinteraksi, karena mereka tetap saling berkunjung, karena mereka tetap saling berdiskusi. Sedangkan kita hanya di rumah saja, rebahan, nonton Tv, main Hp, yang akhirnya termakan media.   Ya, Corona itu nyata, mereka tahu itu dan tidak meremehkannya. Hanya saja mereka juga tahu bahwa menjaga diri dari Corona tidak perlu seberlebihan itu. Lagi pula mereka tidak memprovokasi kita untuk menentang pemerintah. Mereka hanya ingin kita semua bisa saling mengerti keyakinan masing-masing dalam menyikapi Corona. Mungkin bagi kita sikap mereka yang tetap keluar rumah itu membahayakan, karena bisa saja mereka tanpa sadar membawa virus ke setiap kunjungan. Namun, mungkin juga bagi mereka justru sikap kita yang terus di rumah saja i...

Email 3 Pagi

Jam 3 pagi kau mengirimkanku email Dua paragraf formal yang cukup detail Aku memastikan, "Ini benar kamu?" "Iya. Plis, aku perlu bantuan kamu." Paragraf pertama berucap salam dan maaf mengirim pesan di jam tiga Paragraf kedua memohon bantuan yang mana hanya aku yang bisa Ingin sekali kuberi syarat agar pindah ke WhatsApp Namun ini hal profesionalitas dan tanggung jawab Dan benar, hanya sebatas pekerjaan Kau berterima kasih dan berpamitan Tiada satupun pertanyaan pribadi Tiadakah kerinduan di hatimu tadi? Setidaknya kau t'lah menjawab baitku dua tahun lalu Bahwa kita kan jumpa lagi pada kebetulan yang baru Ji elbatawi Jakarta, Maret 2021

Ingin Berkata Kasar

Karya tulis apapun -termasuk lagu- jika tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, itu ibarat pertandingan UFC tidak boleh melukai. What!! Kunci-kuncian alias peluk-pelukan aja gitu di atas ring?? Naa... jis. Hahaha... Kebebasan berekspresi adalah hak setiap orang, sekalipun bukan seniman. Dalam berkarya sebagai bentuk pengekspresian diri atas suatu pengalaman ada banyak sekali macam-macam sumber inspirasinya. Ya, termasuk dari hal-hal yang bersifat tidak baik. Kata-kata kasar itu ada karena sifat seperti itu memang ada. Menurutmu lebih dulu ada sifatnya atau sebutannya? Tentu sifatnya, baru kemudian kita memberikan penyebutannya. Lantas, mengapa harus dibatasi jika inspirasinya memang dari pengalaman bertemu dengan sifat-sifat negatif seperti itu?