Langsung ke konten utama

Rumah Angker


Menghindari ingar bingar metropolitan
yang kapan saja bisa membunuhku perlahan
Mengasingkan diri ke pedalaman
menyelesaikan suatu proyek tulisan


Mereka bilang rumah ini angker
Tapi tidak bagiku yang introver

Mula-mula ada yang mengintip tanpa berkedip
Seperti penasaran ingin berkenalan

Seiring waktu mereka justru menemani
Membuatku tak merasa sendiri dan sepi

Bahkan ada yang sering kali memperhatikanku dari belakang
Seolah mengawasiku agar tak lupa pada tujuanku datang


Keberadaan makhluk astral
Membuat imajiku makin universal

Terkadang ada yang berbisik
Memberi ide yang harus kuketik

Ada pula yang menertawakan
Tiap kali otakku menemui kebuntuan

Sesekali ada yang mencolek
Membuyarkan kantuk agar aku kembali melek

Ada jua yang suka memberi terapi kejut
Memastikan jantungku masih berdenyut


Aku tidak merasa terganggu oleh mereka
Setidaknya tidak seperti teman manusia
Yang tidak bisa melihat teman berkarya


Ji elbatawi
Jakarta, September 2021

Komentar

Postingan Populer

Ingin Berkata Kasar

Karya tulis apapun -termasuk lagu- jika tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, itu ibarat pertandingan UFC tidak boleh melukai. What!! Kunci-kuncian alias peluk-pelukan aja gitu di atas ring?? Naa... jis. Hahaha... Kebebasan berekspresi adalah hak setiap orang, sekalipun bukan seniman. Dalam berkarya sebagai bentuk pengekspresian diri atas suatu pengalaman ada banyak sekali macam-macam sumber inspirasinya. Ya, termasuk dari hal-hal yang bersifat tidak baik. Kata-kata kasar itu ada karena sifat seperti itu memang ada. Menurutmu lebih dulu ada sifatnya atau sebutannya? Tentu sifatnya, baru kemudian kita memberikan penyebutannya. Lantas, mengapa harus dibatasi jika inspirasinya memang dari pengalaman bertemu dengan sifat-sifat negatif seperti itu?

Demonstrasi X Palang-Pintu Betawi

Menanggapi komentar "untuk apa demo", bagaimana kalau aksi demonstrasi ini saya ibaratkan dengan pernikahan. Biar lebih asik dan mudah dipahami, karena setiap kita pasti telah dan ingin menikah. Pada dasarnya seorang pria bisa saja dan sah-sah saja datang melamar dan menikah seorang diri. Tentunya kedatangan sang pria untuk meminang tersebut sudah berdasarkan hasil ta'aruf (perkenalan) yang lebih dari cukup untuk meyakinkannya. Namun, kebanyakan pihak wanita meminta sang pria untuk datang membawa keluarganya sebagai bukti keseriusan. Maka datanglah sang pria beserta keluarganya.