Langsung ke konten utama

Postingan

Email 3 Pagi

Jam 3 pagi kau mengirimkanku email Dua paragraf formal yang cukup detail Aku memastikan, "Ini benar kamu?" "Iya. Plis, aku perlu bantuan kamu." Paragraf pertama berucap salam dan maaf mengirim pesan di jam tiga Paragraf kedua memohon bantuan yang mana hanya aku yang bisa Ingin sekali kuberi syarat agar pindah ke WhatsApp Namun ini hal profesionalitas dan tanggung jawab Dan benar, hanya sebatas pekerjaan Kau berterima kasih dan berpamitan Tiada satupun pertanyaan pribadi Tiadakah kerinduan di hatimu tadi? Setidaknya kau t'lah menjawab baitku dua tahun lalu Bahwa kita kan jumpa lagi pada kebetulan yang baru Ji elbatawi Jakarta, Maret 2021

Review Buku: Islam Santuy Ala Gus Baha - Harakah ID

Buku Islam Santuy Ala Gus Baha ini ditulis dan diterbitkan sendiri oleh Harakah ID. Harakah ID adalah sebuah situs belajar islami yang menyajikan artikel-artikel kajian dan berita keislaman. Adapun Gus Baha, atau kiai dengan nama lengkap K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim ini merupakan salah satu santri K.H. Maimun Zubair yang belakangan ini cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia berkat pembawaan materi pengajiannya yang sederhana, mudah dimengerti dan disertai dengan guyonan-guyonan ringan. Buku ini berisikan kumpulan artikel-artikel dari situs Harakah ID yang ditulis oleh tim penulis mereka yang membahas kajian-kajian Gus Baha dari berbagai sumber, yang kemudian dikelompokkan di dalam buku ini menjadi 5 bab. Buku ini berbahasa Indonesia, sesuai dengan harapan saya ketika hendak membelinya. Karena, saya masih kurang cukup mengerti bahasa asli Gus Baha, bahasa Jawa. Namun, yang kurang memuaskan saya adalah, setiap judulnya itu tidak dominan perkataan (kaul) Gus Baha ataupun terjemah...

Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Utang Per Kepala Suatu Negara?

Per Desember 2020, utang negara Indonesia sudah mencapai Rp6.074,56 triliun. Dan jika dibagi 271,35 juta penduduk (per Desember 2020), maka didapati utang per kepala Rp22,4 juta. Menurut Ekonom, sampai tahun 2050 pun utang tersebut belum tentu lunas. Maka muncul pertanyaan, jika ada warga negara yang wafat sebelum lunasnya utang tersebut, apakah ia wafat membawa/bertanggung jawab atas utang per kepala itu di akhirat? Sedangkan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, "Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan sebab utangnya sampai ia melunasinya." [HR. Tirmidzi] Pertama, istilah "utang per kepala" itu hanyalah sebuah perumpamaan untuk menggambarkan seberapa besarnya utang negara. Maka, yang bertanggung jawab atas utang tersebut adalah para pejabat di setiap periodenya yang membuat dan menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan utang tersebut. Akan tetapi, jika mereka—para pejabat—wafat sebelum lunasnya utang negara, yang jadi tanggung jawab mereka di akhi...

(P)akar Masalah

Gua dari kelas 3 SMP udah sering jadi tempat curhat teman-teman gua. Sekarang, benar, giliran gua yang lagi mau curhat, mereka malah jawab, "Lu masih mending. Lah gua, ...." Buat gua, ya kesel emang, tapi setidaknya itu (1) mengingatkan gua bahwa kita nggak boleh sembarang curhat, sembarang ngeluh. "Curhatlah hanya kepada Allah". Mohon maaf, tanpa maksud menentang, tidak bisa dipungkiri bahwa kita juga butuh teman curhat yang bisa kita lihat, yang bisa merespon—dengan gestur maupun perkataan—secara indrawi. Maka curhatlah kepada orang yang sekiranya ahli dalam memberikan solusi atas masalah yang sedang kamu alami. Minimal kepada orang yang tidak akan menyebarluaskan aib masalahmu. Dan walaupun gua udah cukup lama dan sering dijadikan tempat curhat, bukan berarti sekarang gua udah ahli apalagi pakar. Kemarin ada yang bilang begitu, soalnya. Padahal, gua jarang banget ngasih solusi pada mereka. Dari dulu, gua nggak lebih dari sekadar "teman ngopi ya...

Lampu Merah

  Lampu merah nya sebentaran banget Pengamen baru dapat dua logam gopek-an Penanggok sumbangan masjid baru salam Pasangan kekasih baru dua garukan dengkul Ojek online baru cek Hp dan neduh bentaran Sopir angkot belum beres merapikan recehan Sales pengobatan cukup gesit sebar selebaran Sales rokok nan seksi belum ada yang godain Copet baru melihat target dan mepet-mepet Emak-emak nyebrang buru-buru lari-lari kecil Tukang kanebo belum sampai ke yang manggil Tukang cangcimen belum ngasih kembalian Pak Polisi belum dapat selfie apik 'tuk laporan Pak Boss baru aja manggil bocah loper koran Nyonya Boss masih lagi meratakan lipstiknya Pemotor jarak jauh belum reda kesemutannya Pramunikmat masih lagi dinego trio pemuda Pelanggar lalu lintas tetap saja sudah nerobos Saya belum selesai baca info konser di baliho Sedang kamu belum juga menoleh ke arahku Eh, sudah lampu hijau aja Ji elbatawi Jakarta, Desember 2020

Ketika Anak Terjerumus

Malam itu seorang bapak mendapat laporan bahwa anaknya—yang masih SMP—terlihat sedang merokok di warung saya. Tanpa mengulur waktu, sang bapak segera beranjak ke warung saya. Tepat, si anak sedang mengisap rokoknya ketika bapaknya tiba. Si anak segera membuang rokoknya tanpa dititah; sang bapak memarahinya serta memperingatkan beberapa temannya, kemudian menyuruh mereka pulang. Tidak langsung pulang menggiring anaknya, si bapak malah memanggil saya yang sejak tadi menyimak dari dalam warung. "Bapakmu ada?" tanya bapak itu. "Nggak ada, lagi keluar. Kenapa?" jawab saya berlagak pilon. "Yaudah, saya mau ngomong sama kamu aja. Kamu udah dewasa, kan? Udah kuliah, kan?" Saya siap menyimak. "Kamu ini bagaimana, sih?" bapak itu mengawali dongengnya dengan tegas. "Anak-anak masih di bawah umur begitu, merokok, kok, nggak dilarang? Mereka ini generasi calon penerus bangsa. Apa jadinya negara ini nanti jika anak-anak di bawah umur sudah dibiarkan merok...

Konsentrasi, Tapi Jangan Fokus

  Sebelumnya saya kesal pada orang-orang yang tidak bisa tetap mendengarkan kita bicara sekalipun sembari main handphone — karena saya bisa. Sampai akhirnya saya berpikiran, "Kayaknya enak, deh, mereka: ketika sholat pasti bisa khusyuk, tidak mudah terganggu oleh suara-suara di sekitar; tidak seperti saya, mudah sekali terdistraksi."   Ayah saya seorang pecinta musik. Sedari kecil saya sudah diperdengarkan beberapa aliran musik. Dan di masa Sekolah Dasar, saya mendapatkan informasi dari televisi bahwa belajar sambil mendengarkan musik dapat membantu konsentrasi serta meningkatkan daya ingat otak.   Sejak itu maka saya amalkan informasi tersebut sampai masa kuliah, yang ternyata berefek samping saya jadi terlatih dan terbiasa membagi fokus otak. Sedangkan belakangan yang saya pahami, musik yang dimaksud pada informasi televisi itu adalah musik klasik yang tidak berlirik. Saya yang saat itu masih anak Sekolah Dasar mana tahu apa itu musik klasik.    ...