Langsung ke konten utama

Postingan

Demonstrasi X Palang-Pintu Betawi

Menanggapi komentar "untuk apa demo", bagaimana kalau aksi demonstrasi ini saya ibaratkan dengan pernikahan. Biar lebih asik dan mudah dipahami, karena setiap kita pasti telah dan ingin menikah. Pada dasarnya seorang pria bisa saja dan sah-sah saja datang melamar dan menikah seorang diri. Tentunya kedatangan sang pria untuk meminang tersebut sudah berdasarkan hasil ta'aruf (perkenalan) yang lebih dari cukup untuk meyakinkannya. Namun, kebanyakan pihak wanita meminta sang pria untuk datang membawa keluarganya sebagai bukti keseriusan. Maka datanglah sang pria beserta keluarganya.

Digoda Renjana

Aku rindu melihatmu mengenakan jaket denim Dengan polesan make up yang minim Kau menghampiriku tanpa jaim Jabat tanganmu memperkenalkan diri Tangan nakalku menyambut sendiri Senyum santunmu melarutkan perkenalan Senyum canggungku mensyukuri keadaan

Utuhkanlah Lagi Hatimu

Kamu telah bersamanya. Kamu sudah lebih dari cukup mengenalnya. Dan kini kamu melihatku, tentu sama seperti saat pertama kamu melihatnya. Matamu hanya bisa melihat segala kelebihannya. Hingga kamu jatuh hati dan menerima cintanya. Sampai kamu mengetahui satu per satu dari pada kekurangannya, menerimanya, serta melengkapinya. Tentunya proses itu tidaklah mudah. Apa kini kamu ingin mengulangi proses itu padaku? Lebih baik tidak. Karena aku tidak seperti dia. Kekuranganku berbeda dengan dia, yang mana kamu belum tentu bisa menerimanya. Apalagi kini dengan hatimu yang telah terbagi. Kasih, utuhkanlah lagi hatimu untuknya. Aku belum tentu sebaik dia bagi hatimu.

Untuk Apa Berstatus

Untuk apa berstatus? Jika dengan tanpa status pun tetap bisa bersama terus dan bisa lebih fokus. Yang berstatus bisa putus. Apa pada yang tidak berstatus akan ada istilah putus? Palingan cuma pupus, itu pun takkan sampai terluka serius. Yang penting itu tulus, nggak modus.