Langsung ke konten utama

Selepas Maghriban

...
Di suatu celah, motor saya hampir bersenggolan dengan motor lain. Tentu saya mengalah, karena jelas dia perempuan. Di celah selanjutnya saya mencoba menyalipnya dan berhasil. Kini dia melaju tepat di belakang saya. Dan secara mengejutkan, dia menyalip balik saya dengan manuver yang agak kasar. Syukurlah saya tidak menabraknya.

Meski jalan sudah agak melengang, namun saya tidak membalas menyalipnya lagi. Saya lebih memilih membayanginya dari belakang. Sesekali dia terlihat mencari saya via kaca spionnya kanan dan kiri.

Hingga terhentinya dia di lampu merah, dan saya berhenti tepat di sebelah kanannya. Saya merogoh saku celana mengambil sebuah permen dan memakannya. Saya tahu dia memperhatikan saya. Saya ambil satu permen lagi dan menawarkannya.

Dia menerima permen itu, menaikkan kaca helmnya dan bertanya sembari membuka bungkus permennya, "mau kemana?"
"Terserah kamu deh. Aku ikut aja."
Dia tertawa sampai menunda memasukkan permen itu ke mulutnya.

120 detik lampu merah tidak terasa lama seperti biasanya. Dia tancap gas lebih dulu saat lampu masih kuning. Saya menyusulnya setelah lampu sudah hijau.

Beberapa ratus meter kemudian dia menurunkan kecepatannya dan memberi isyarat agar saya ke sisinya. Kami menyamakan kecepatan.
"Lo beneran ngikutin gue ya?"
Sebenarnya tujuan saya memang masih searah dengannya. Tapi... "loh, bukannya mau ngajak gua ke suatu tempat?" Jawab saya sambil menyelam minum air.
"Haha.. Okey, ikuti gue ya."

Komentar

Postingan Populer

Termakan Media

Mereka yang tidak mengindahkan himbauan pemerintah, mereka yang kita benci dan kita anggap meremehkan Corona, bisa saja lebih mengetahui mengenai fakta-fakta di balik itu semua. Karena mereka tetap keluar rumah, karena mereka tetap harus banyak berinteraksi, karena mereka tetap saling berkunjung, karena mereka tetap saling berdiskusi. Sedangkan kita hanya di rumah saja, rebahan, nonton Tv, main Hp, yang akhirnya termakan media.   Ya, Corona itu nyata, mereka tahu itu dan tidak meremehkannya. Hanya saja mereka juga tahu bahwa menjaga diri dari Corona tidak perlu seberlebihan itu. Lagi pula mereka tidak memprovokasi kita untuk menentang pemerintah. Mereka hanya ingin kita semua bisa saling mengerti keyakinan masing-masing dalam menyikapi Corona. Mungkin bagi kita sikap mereka yang tetap keluar rumah itu membahayakan, karena bisa saja mereka tanpa sadar membawa virus ke setiap kunjungan. Namun, mungkin juga bagi mereka justru sikap kita yang terus di rumah saja i...

Email 3 Pagi

Jam 3 pagi kau mengirimkanku email Dua paragraf formal yang cukup detail Aku memastikan, "Ini benar kamu?" "Iya. Plis, aku perlu bantuan kamu." Paragraf pertama berucap salam dan maaf mengirim pesan di jam tiga Paragraf kedua memohon bantuan yang mana hanya aku yang bisa Ingin sekali kuberi syarat agar pindah ke WhatsApp Namun ini hal profesionalitas dan tanggung jawab Dan benar, hanya sebatas pekerjaan Kau berterima kasih dan berpamitan Tiada satupun pertanyaan pribadi Tiadakah kerinduan di hatimu tadi? Setidaknya kau t'lah menjawab baitku dua tahun lalu Bahwa kita kan jumpa lagi pada kebetulan yang baru Ji elbatawi Jakarta, Maret 2021

Ingin Berkata Kasar

Karya tulis apapun -termasuk lagu- jika tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, itu ibarat pertandingan UFC tidak boleh melukai. What!! Kunci-kuncian alias peluk-pelukan aja gitu di atas ring?? Naa... jis. Hahaha... Kebebasan berekspresi adalah hak setiap orang, sekalipun bukan seniman. Dalam berkarya sebagai bentuk pengekspresian diri atas suatu pengalaman ada banyak sekali macam-macam sumber inspirasinya. Ya, termasuk dari hal-hal yang bersifat tidak baik. Kata-kata kasar itu ada karena sifat seperti itu memang ada. Menurutmu lebih dulu ada sifatnya atau sebutannya? Tentu sifatnya, baru kemudian kita memberikan penyebutannya. Lantas, mengapa harus dibatasi jika inspirasinya memang dari pengalaman bertemu dengan sifat-sifat negatif seperti itu?