Langsung ke konten utama

Teman Curhat Yang Baik

Teman curhat yang baik itu bukan yang sekadar diam dan mendengarkan. Teman curhat yang baik itu...

Mula-mula, lu harus peka ketika teman lu sedang ada masalah atau unek-unek yang ingin diluapkan.

Kemudian, lu harus mengawali dialog dengan teguran yang asik, tanpa kesan mengejek, untuk—secara tidak langsung—mempersilakan dia menceritakan permasalahannya, serta membuka diri secara bahasa tubuh agar ia merasa nyaman untuk menceritakannya.

Dan di setiap jeda ia curhat, lu harus meresponnya dengan berkomentar yang asik, tanpa kesan menyalahkan, sekalipun ia memang salah, disertai dengan gestur yang memberikan kenyamanan dan menenangkan.

Setelah selesai ia mengeluarkan unek-uneknya, usahakan lu bisa memberikan solusi atas permasalahannya, minimal berikan kata-kata yang menenangkan.

Belum cukup sampai di situ. Karena lu udah membuat dia mengeluarkan unek-uneknya, privasinya, maka lu harus bertanggung jawab untuk menjaga rahasia itu, tidak menceritakannya kepada siapapun, kecuali kepada orang yang menurut lu lebih ahli dan bisa memberikan solusi terbaik, itupun sebaiknya dengan tanpa menyebutkan nama, kecuali jika memang diperlukan demi solusi khusus.

Nah, itu jika prosesinya secara kontak langsung. Berbeda jika via chat atau telepon, maka full lu harus pandai menggunakan gaya bahasa yang asik.


Ji elbatawi

Komentar

Postingan Populer

Ingin Berkata Kasar

Karya tulis apapun -termasuk lagu- jika tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, itu ibarat pertandingan UFC tidak boleh melukai. What!! Kunci-kuncian alias peluk-pelukan aja gitu di atas ring?? Naa... jis. Hahaha... Kebebasan berekspresi adalah hak setiap orang, sekalipun bukan seniman. Dalam berkarya sebagai bentuk pengekspresian diri atas suatu pengalaman ada banyak sekali macam-macam sumber inspirasinya. Ya, termasuk dari hal-hal yang bersifat tidak baik. Kata-kata kasar itu ada karena sifat seperti itu memang ada. Menurutmu lebih dulu ada sifatnya atau sebutannya? Tentu sifatnya, baru kemudian kita memberikan penyebutannya. Lantas, mengapa harus dibatasi jika inspirasinya memang dari pengalaman bertemu dengan sifat-sifat negatif seperti itu?

Pure Dialogue (Dia) Lo Gue

"Ehm.. mau sampai kapan begitu terus?" "Begitu gimana?" "Lo suka, kan, sama dia? Ungkapin aja, jangan dipendam." "Haha. Lu juga lagi suka, kan, sama seseorang? Tapi nggak lu ungkapin." "Sok tau lo." "Gua juga bisa lihat itu sebagaimana yang lu lihat di gua." "Tapi, kan, gue cewek, lo tuh yang laki." "Yaa daripada lu geregetan terus lihat orang yang lu suka mandangin cewek lain terus." "Iya, sih. Eh, tunggu deh. Emang menurut lo gue lagi suka sama siapa?" "Sama gua." "Hah!? Haha.. pede gila lo, ya." "Jujur aja, sih. Santai aja sama gua." "Ish, ngeselin lo, ya. Gini deh, "se-an-dai-nya" itu emang elo, apa lo mau nerima gue? Sedangkan ada cewek lain yang lagi lo kejar." "Gini aja, deh. Karena lu udah nunjukin rasa peduli lu sama gua dengan mengawali obrolan ini dan yang lagi lu suka itu emang gua, jadi gua langsung kasih kepastiannya aja, gi...