Langsung ke konten utama

Penulis X Pembicara

Dua, ragam bahasa berdasarkan medianya. Yaitu lisan dan tulis.

Meski sama-sama dalam konteks berbahasa, tapi setiap media memiliki keilmuan yang berbeda, terutama pada susunan kata, intonasi dan tanda baca.

Fungsi intonasi dalam berbicara sama dengan fungsi tanda baca dalam menulis. Namun, yang mahir memainkan intonasi belum tentu bisa menuliskan tuturannya menjadi kalimat dengan penggunaan tanda baca yang tepat. Sedangkan yang cermat menggunakan tanda baca pasti tahu bagaimana mengintonasikan tulisannya. Akan tetapi, bahasa tulisan akan terdengar kaku jika dituturkan mentah-mentah oleh penulisnya.

(Ya, banyak juga sih yang ahli dalam keduanya.)

Hasilnya, saya sebagai penulis merasa geregetan atas tulisan anda, Wahai Pembicara. Ya, sebagaimana anda jengkel atas ocehan saya yang sering kali ngaco.

Eits, jangan tersinggung. Maksud saya adalah..
Mengapa tidak kita saling memaklumi?
Mengapa tidak kita saling mengoreksi?
Mengapa tidak kita saling bekerja sama?
Mengapa tidak kita saling melengkapi?

Saling melengkapi? Emm.. maksud saya...

Maaf, bahkan tulisan saya pun masih ngaco.
Semoga anda bisa mengambil hikmahnya.
Sekian dan terimakasih..

Komentar

Postingan Populer

Email 3 Pagi

Jam 3 pagi kau mengirimkanku email Dua paragraf formal yang cukup detail Aku memastikan, "Ini benar kamu?" "Iya. Plis, aku perlu bantuan kamu." Paragraf pertama berucap salam dan maaf mengirim pesan di jam tiga Paragraf kedua memohon bantuan yang mana hanya aku yang bisa Ingin sekali kuberi syarat agar pindah ke WhatsApp Namun ini hal profesionalitas dan tanggung jawab Dan benar, hanya sebatas pekerjaan Kau berterima kasih dan berpamitan Tiada satupun pertanyaan pribadi Tiadakah kerinduan di hatimu tadi? Setidaknya kau t'lah menjawab baitku dua tahun lalu Bahwa kita kan jumpa lagi pada kebetulan yang baru Ji elbatawi Jakarta, Maret 2021

Kamu Terlalu Baik

Menjauhlah dari orang yang menganggap kamu terlalu baik. Itu hanyalah kata lain bahwa mereka tidak sanggup mengapresiasi dan menerima orang sebaik kamu dalam hidupnya. Mereka tidak sanggup melihat kamu berbuat baik kepada banyak orang terutama kepada yang lawan jenis. Mereka merasa takut. Padahal, jauh dalam lubuk hatinya, mereka menginginkan kekasih yang baik. Orang seperti itu pada akhirnya hanya akan menyakitimu, meninggalkanmu dan bersikap seolah kamu telah melakukan kesalahan. Tapi kamu tidak perlu merasa menyesal, atas ketulusan setiap perbuatan baik yang pernah kaulakukan selama ini. Bukankah orang baik hanya untuk orang baik jua?