Langsung ke konten utama

Penulis X Pembicara

Dua, ragam bahasa berdasarkan medianya. Yaitu lisan dan tulis.

Meski sama-sama dalam konteks berbahasa, tapi setiap media memiliki keilmuan yang berbeda, terutama pada susunan kata, intonasi dan tanda baca.

Fungsi intonasi dalam berbicara sama dengan fungsi tanda baca dalam menulis. Namun, yang mahir memainkan intonasi belum tentu bisa menuliskan tuturannya menjadi kalimat dengan penggunaan tanda baca yang tepat. Sedangkan yang cermat menggunakan tanda baca pasti tahu bagaimana mengintonasikan tulisannya. Akan tetapi, bahasa tulisan akan terdengar kaku jika dituturkan mentah-mentah oleh penulisnya.

(Ya, banyak juga sih yang ahli dalam keduanya.)

Hasilnya, saya sebagai penulis merasa geregetan atas tulisan anda, Wahai Pembicara. Ya, sebagaimana anda jengkel atas ocehan saya yang sering kali ngaco.

Eits, jangan tersinggung. Maksud saya adalah..
Mengapa tidak kita saling memaklumi?
Mengapa tidak kita saling mengoreksi?
Mengapa tidak kita saling bekerja sama?
Mengapa tidak kita saling melengkapi?

Saling melengkapi? Emm.. maksud saya...

Maaf, bahkan tulisan saya pun masih ngaco.
Semoga anda bisa mengambil hikmahnya.
Sekian dan terimakasih..

Komentar

Postingan Populer

Teman Curhat Yang Baik

Teman curhat yang baik itu bukan yang sekadar diam dan mendengarkan. Teman curhat yang baik itu... Mula-mula, lu harus peka ketika teman lu sedang ada masalah atau unek-unek yang ingin diluapkan. Kemudian, lu harus mengawali dialog dengan teguran yang asik, tanpa kesan mengejek, untuk—secara tidak langsung—mempersilakan dia menceritakan permasalahannya, serta membuka diri secara bahasa tubuh agar ia merasa nyaman untuk menceritakannya. Dan di setiap jeda ia curhat, lu harus meresponnya dengan berkomentar yang asik, tanpa kesan menyalahkan, sekalipun ia memang salah, disertai dengan gestur yang memberikan kenyamanan dan menenangkan. Setelah selesai ia mengeluarkan unek-uneknya, usahakan lu bisa memberikan solusi atas permasalahannya, minimal berikan kata-kata yang menenangkan. Belum cukup sampai di situ. Karena lu udah membuat dia mengeluarkan unek-uneknya, privasinya, maka lu harus bertanggung jawab untuk menjaga rahasia itu, tidak menceritakannya kepada siapapun, kecuali k...

Ingin Berkata Kasar

Karya tulis apapun -termasuk lagu- jika tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, itu ibarat pertandingan UFC tidak boleh melukai. What!! Kunci-kuncian alias peluk-pelukan aja gitu di atas ring?? Naa... jis. Hahaha... Kebebasan berekspresi adalah hak setiap orang, sekalipun bukan seniman. Dalam berkarya sebagai bentuk pengekspresian diri atas suatu pengalaman ada banyak sekali macam-macam sumber inspirasinya. Ya, termasuk dari hal-hal yang bersifat tidak baik. Kata-kata kasar itu ada karena sifat seperti itu memang ada. Menurutmu lebih dulu ada sifatnya atau sebutannya? Tentu sifatnya, baru kemudian kita memberikan penyebutannya. Lantas, mengapa harus dibatasi jika inspirasinya memang dari pengalaman bertemu dengan sifat-sifat negatif seperti itu?

Pure Dialogue (Dia) Lo Gue

"Ehm.. mau sampai kapan begitu terus?" "Begitu gimana?" "Lo suka, kan, sama dia? Ungkapin aja, jangan dipendam." "Haha. Lu juga lagi suka, kan, sama seseorang? Tapi nggak lu ungkapin." "Sok tau lo." "Gua juga bisa lihat itu sebagaimana yang lu lihat di gua." "Tapi, kan, gue cewek, lo tuh yang laki." "Yaa daripada lu geregetan terus lihat orang yang lu suka mandangin cewek lain terus." "Iya, sih. Eh, tunggu deh. Emang menurut lo gue lagi suka sama siapa?" "Sama gua." "Hah!? Haha.. pede gila lo, ya." "Jujur aja, sih. Santai aja sama gua." "Ish, ngeselin lo, ya. Gini deh, "se-an-dai-nya" itu emang elo, apa lo mau nerima gue? Sedangkan ada cewek lain yang lagi lo kejar." "Gini aja, deh. Karena lu udah nunjukin rasa peduli lu sama gua dengan mengawali obrolan ini dan yang lagi lu suka itu emang gua, jadi gua langsung kasih kepastiannya aja, gi...